Sinopsis Sebuah Novelet Pembangun Jiwa “Mahkota Cinta” Karya Habiburrahman El Shirazy


Ngomong-ngomong kemarin nih aku beli novel yah, online lah dari market place yang oren-oren itu. Oh iya judul novelnya “Dalam Mihrab Cinta”. Dalam sampul depan novel tersebut bertuliskan nama yang sangat familiar sekali. Siapakah dia?.

Iyah benar, Habiburrahman El Shirazy. Dia penulis novel yang karyanya sering jadi best seler. Tulisan nya menarik, bagus. Aku suka.

Novel ini Kalau tidak salah dulu juga sudah di filmkan. Iya kan, Tapi aku sama sekali belum menonton-nya. Hehehe.

Sambil menunggu novelnya  sampai, dalam waktu luang aku membaca kembali koleksi novel ku yang berjudul “Diantara Dua Sujud”, dari awal hingga akhir. Dari pada gabut kan di rumah terus.

Sudah tiga hari nih, barangnya udah sampai. Terimaksih kurir telah mengantarkan paketku. Paket telah sampai dengan selamat.

Aku buka kan isinya, dan sesuai harapan. Buku-buku yang aku beli tersimpan rapi. Bagus.

Aku langsung membaca novel ini pertama kali, sebelum membeli aku menyangka jika novel ini hanya memiliki satu cerita yakni “Dalam Mihrab Cinta” namun ternyata aku baru sadar jika novel ini ternyata memiliki tiga novelet dengan judul yang berbeda.

Iya, novel dengan tajuk Dalam Mihrab Cinta ternyata didalamnya ada tiga judul novelet. Tiga cerita dalam satu buku.

Novelet pertama ialah, Takbir Cinta Zahrana. Novelet kedua ialah Dalam Mihrab Cinta. Dan yang terakhir adalah novelet dengan judul Mahkota Cinta.

Nah, ketiga novelet ini telah rampung aku baca. Dan Aku juga telah menulis sinopsis nya dalam postingan di blog ini loh.

Kali ini aku akan menulis sinopsis dari novelet “Mahkota Cinta” dulu yah. Penasaran yuk baca sampai akhir.

Sinopsis Novelet Mahkota Cinta


Mahkota Cinta ialah novelet pembangun jiwa yang menceritakan kisah hidup anak rantau bernama Ahmad Zul sampai menemukan jodoh yang dia cari.

Kisah ini bermula ketika ia memutuskan untuk merantau dari Semarang ke Jakarta, Jakarta ke Batam, hingga Batam ke Malaysia.

Ketika rantauan nya telah sampai di Batam, ia bertemu dengan Pak Hasan. Pak Hasan ialah orang baik yang membantu nya hidup di Batam. Zul sudah menganggap Pak Hasan sebagai mentor sekaligus bapaknya sendiri.

Singkat cerita, Pak Hasan menilai bahwa Zul ini memiliki potensi yang besar untuk menjadi orang sukses. Namun tidak jika ia terus berada di negeri ini.

Akhirnya Pak Hasan memberikan arahan dan nasehat kepada Zul agar merantau ke Malaysia. Ia yakin jika Zul ke Malaysia hidupnya akan berubah.

Zul pun manut nasehat Pak Hasan, ia pun pergi ke Malaysia. Di kapal Feri yang mengantarkan dirinya ke Malaysia ia termenung dan bingung harus berbuat apa.

Ia bingung apa yang harus dilakukan nya di Malaysia, ia tidak memiliki tujuan pasti. Ia bahkan belum pernah sama sekali pergi ke negara tersebut. Dalam kebingungannya tersebut ia bertemu dengan wanita muda bernama Siti Martini.

Siti Martini bagai malaikat yang hadir dalam kebingungan Zul. Dengan senang hati wanita itu memberikan bantuan kepada Zul. Perbincangan kedua insan tersebut berlangsung cukup lama.

Mba Mar, sapa an Zul kepada wanita yang baru ia temui itu. Mba Mar memberikan bantuan berupa menawari Zul menginap di tempat tinggalnya untuk sementara waktu sebelum Zul bertemu dengan kenalan Pak Hasan yang ada di Malaysia.

Zul pun menginap di kontrakan Mba Mar karena dia tidak memiliki pilihan. Selain Mba Mar, kontrakan itu di diami oleh teman-teman Mba Mar. Ada Sumiati, Linda, Reni dan Watik.

Hari berikutnya Zul bertemu dengan Pak Rusli, kenalan Pak Hasan. Pak Rusli kemudian mencarikan tempat tinggal untuk Zul. Tempat tinggal tersebut ternyata ialah rumah yang berisikan mahasiswa dari Indonesia.

Zul pun bertemu dengan Sugeng, Yahya, Arif, Rizal dan Pak Muslim. Atas saran teman-teman barunya itu Zul diminta untuk kuliah di Universitas Malaya. Sebuah universitas tertua di Malaysia.

Semua urusan administrasi dan keperluan untuk mendaftar di universitas tertua dia Malaysia tersebut di bantu oleh teman-teman barunya. Zul kemudian mengambil jurusan Pascasarjana Sosiologi Pendidikan.

Setelah beberapa hari berlalu, Zul baru teringat bahwa barang-barang nya masih ada yang tertinggal di kontrakan Mbak Mar di Subang Jaya. Ia berpikir nanti saja untuk mengambil barang miliknya sekaligus mengucapkan terimakasih kepada Mba Mar atas bantuan nya.

Namun karena kesibukan dirinya, ia lupa akan hal itu. Saking sibuknya ia baru memutuskan untuk mengambil barang-barang nya di kontrakan Mba Mar berbulan-bulan kemudian itupun karena ada desakan yang sangat kuat dari dalam hatinya untuk pergi kesana.

Pagi sekali Zul mantap pergi ke rumah Mba Mar. Ia sangat terkejut melihat dalam rumah Mba Mar ada seorang laki-laki yang ingin memperkosa Mba Mar.

Dengan sigap, Zul kemudian membuka pintu dan memukul laki-laki tersebut. Duel sengit pun terjadi antara Zul dengan Si laki-laki bejat tersebut.

Diketahui bahwa laki-laki yang berusaha memperkosa Mba Mar itu ialah Warkum, mantan Suami Mba Mar. Singkat cerita, Zul dapat memukul mundur Warkum.

Mba Mar masih shok dengan kejadian yang baru saja dia alami. Zul pun membatu Mba Mar untuk menenangkan jiwanya. Beberapa jam kemudian, Mba Mar agak mendingan.

Zul pun bertanya bagaimana Warkum bisa sampai kesini. Mba Mar pun memberi kan keterangan yang sangat detail mengenai hal tersebut.

Ternyata Warkum datang ke rumah Mba Mar untuk mengambil hak nya dahulu sebagai suami. Diketahui bahwa Mba Mar walau sudah janda tetapi ia masih Suci.

Mendengar keterangan Mba Mar, timbulah rasa cinta dari diri Zul, begitu juga sebaliknya. Perpisahan tersebut berakhir manis.

Zul mencintai Siti Martini, namun ia bingung apa yang harus dia lakukan. Karena cinta yang membuat nya bingung keseharian nya kini hanya di isi oleh kemalasan dan sangat jauh berbeda sekali dengan Zul dahulu.

Menanggapi masalah ini, Pak Muslim memberikan saran kepada Zul untuk menikahi Mba Mar atau berhenti memikirkan wanita itu dan fokuslah untuk kuliah. Zul akhirnya mantap untuk memilih menikahi Mba Mar.

Zul dan Pak Muslim datang ke kontrakan Mba Mar untuk mengutarakan maksud mulia tersebut. Namun alangkah terkejutnya kedua orang tersebut ketika melihat rumah kontakan itu telah kosong tak berpenghuni.

Menurut keterangan tetangga, perempuan-perempuan yang menghuni rumah itu ialah pelacur. Makanya rumah itu digrebek oleh polisi, ucap tetangga yang ditanyai Zul dan Pak Muslim.

Zul kaget, dunianya bagai telah runtuh mendengar hal tersebut. Ia seperti tidak percaya akan hal ini. Ia pun kembali ke rumah kontakan bersama Pak Muslim.

Kini Zul sadar dan bertekad untuk melupakan Mba Mar. Beberapa tahun kemudian ia lulus dari UM. Kini dia ingin mencari pasangan hidup. Dalam pencarian nya tersebut ia bertemu dengan Sumiati teman Mba Mar yang dulu tinggal bersama wanita yang dicintainya tersebut.

Sumiati kemudian menceritakan bahwa penggerebekan rumah nya dulu ialah ulah si Linda yang membawa pria ke dalam rumah. Makanya kita semua di grebek. Namun kita dibebaskan kecuali Linda.

Dan kini cinta Zul kepada Mba Mar kembali menggelora, namun ia menyadari bahwa kini telah sia-sia. Mau kemana dia mencari Mba Mar, dia saja tidak tahu wanita itu sekarang ada dimana.

Zul pergi ke Jogjakarta untuk melamar pekerjaan di Universitas Negeri Yogyakarta, dibantu Pak Muslim dosen juga di UNY. Atas rekomendasi Pak Muslim, Zul diminta bersedia berkenalan dengan teman istrinya yang bernama Agustin.

Agustin ialah wanita lulusan UKM Malaysia dan juga merupakan dosen di Universitas Semarang. Menurut Pak Muslim, Istrinya akan pulang sehabis magrib. Zul pun menunggu dengan hati berdebar-debar.

Ia bertanya kepada Pak Muslim tentang Umur Agustin, dan dijawab lah umurnya sekitar 28 tahunan. Sehabis sholat magrib berjamaah di masjid, rumah Pak Muslim sudah terbuka.

Didalam rumah sudah duduk dua wanita berkerudung cantik-cantik semua. Zul dan Pak Muslim pun masuk kerumah. Alangkah terkagetnya diri Zul ternyata wanita yang ada didepan dirinya ialah Mba Mar.

Ternyata Agustin ialah Siti Martini. Bagaimana bisa, Mba Mar kemudian menjelaskan jika nama panjang nya ialah Agustina Siti Mariana Maulida.

Di Malaysia ia dikenal sebagai Siti Martini atau Mba Mar. Sembari bekerja ia juga menerus pendidikan nya di Universitas Kebangsaan Malaysia dulu.

Zul sangat bahagia, ia bersyukur dipertemukan kembali dengan Mba Mar. Akhir cerita, Zul dan Mba Mar menikah dan hidup bahagia.

0 Response to "Sinopsis Sebuah Novelet Pembangun Jiwa “Mahkota Cinta” Karya Habiburrahman El Shirazy"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel